event icon Press Release

Citilink Yakinkan Pelaku Keuangan Peluang Bisnis Industri Penerbangan

img21
  • Jakarta, 22 Maret 2014 – Maskapai penerbangan berbiaya murah (LCC) Citilink mengemukakan pandangannya mengenai peluang besar dalam industri penerbangan nasional, walau diwarnai gejolak perekonomian yang sama besarnya, terlebih di di era global seperti sekarang.

    Direktur keuangan Citilink Albert Burhan mengemukakan hal itu dalam konferensi pakar keuangan Indonesia yang diikuti sekitar 200 Chief Financial Officer (CFO) perusahaan multinasional, konsultan keuangan dan para bankir di Jakarta, Kamis (20/3).

    Dengan tema “The Risk Intelligent CFO – Converting Risk into Opportunities”, para pelaku keuangan tersebut berbagi pengalaman mengenai resiko dan prospek keuangan, membuka jaringan kerjasama serta memberikan solusi atas sejumlah persoalan yang banyak mengemuka di perusahaan-perusahaan.

    Saat ini kawasan Asia Pasifik menjadi pusat pertumbuhan lalulintas udara yang pesat di dunia, termasuk di Indonesia dengan segmen di  penerbangan berbiaya murah (low cost carrier). Moda transportasi udara dalam beberapa hal melebihi moda transportasi darat maupun laut.

    Albert mengatakan, ada sejumlah resiko dalam industri penerbangan mulai dari masalah infrastruktur, fluktuasi harga fuel, faktor keselamatan, resiko dalam pembiayaan, resiko keuangan, hingga resiko mata uang asing.

    “Namun demikian pada saat yang sama juga membuka peluang besarnya dalam industri penerbangan. Misalnya infrastruktur airport yang minim akan menimbulkan pembukaan airport baru. Karena kalau tidak akan membatasi pertumbuhan angkutan udara itu sendiri,” katanya.

    Albert juga menjelaskan resiko mengenai “safety” yang menjadi prioritas di penerbangan. Pertumbuhan yang tinggi jika tidak diikuti oleh kondisi pilot, atau staf “ground operations” dan proteksi yang baik akan menimbulkan resiko besar bagi penumpang.

    “Kondisi ini memunculkan peluang bisnis untuk membuka sekolah pilot, training center, dan bisnis asuransi pesawat yang saat ini didominasi ataupun di reasuransi ke luar negeri,” katanya.

    Bahan bakar pesawat (fuel) yang merupakan komponen biaya terbesar di airline bisa diatasi dengan melakukan perlindungan nilai atau “hedging” dari kenaikan harga fuel yang bias ditawarkan oleh perbankan dan juga fuel supplier kepada airline.

    Mobilitas yang tinggi di kawasan Asia Pasifik mendorong pertumbuhan armada pesawat  yang tinggi dan memunculkan kebutuhan akan pembiayaan pesawat yang sangat tinggi. Tidak tersedianya pembiayaan yang cukup pada waktunya akan merusak citra dan kepercayaan pasar dan kemudian diikuti dampak pada tingkat pertumbuhan perusahaan.

    “Aircraft leasing company dan perbankan melihat Indonesia sebagai peluang bisnis yang sangat besar,” katanya.

    Citilink sebagai “new entrant” di segmen LCC ini tumbuh sangat pesat, dan dengan tingkat safety yang lebih baik, ketepatanwaktu yang tinggi, armada pesawat airbus A320 baru, serta harga yang terjangkau, menjadi salah satu pilihan utama penumpang di segmen ini.

    Tentang Citilink

    Citilink adalah anak perusahaan dari PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang menyediakan jasa penerbangan berbiaya murah (LCC). Citilink melayani penerbangan dengan sistem dari kota ke kota menggunakan model usaha pesawat berbiaya murah. Berbasis di Jakarta dan Surabaya, di Desember 2014 Citilink melayani 182 frekuensi penerbangan harian dari Jakarta dan Surabaya ke 23 kota tujuan.

    Adapun kota-kota tujuan terseut adalah; Batam, Bandung, Banjarmasin, Denpasar, Balikpapan, Yogyakarta, Medan, Palembang, Padang, Makasar, Pekanbaru, Lombok, Bengkulu, Jambi, Semarang, Malang, Kupang, Pangkal Pinang, dan Tanjung Pandan, Solo, Surabaya,dan Palangkaraya.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang Citilink dapat mengunjungi: www.citilink.co.id, halaman fanpage di Facebook (Citilink) dan di Twitter (@citilink). Sebagai bukti keberhasilan dalam komitmennya meningkatkan pelayanan pada pelanggan, Citilink telah meraih beberapa penghargaan, antara lain, dari Indonesia Travel and Tourism Foundation untuk kategori Leading Low Cost Airline 2011/2012, The Budgies and Travel Awards 2012 untuk kategori Best Overall Marketing Campaign, penghargaan Service To Care Award 2012 untuk Airlines Category dari Markplus Insight, dan Indonesia Leading Low Cost Airlines selama empat tahun berturut-turut yaitu 2011, 2012, 2013, 2014 dari ITTA Foundation serta Maskapai Penerbangan Nasional Terbaik oleh Adikarya Wisata Award 2012.